Harian Umum Pasundan Ekspres Online

Puluhan WNA Ditangkap Imigrasi

Saat Bekerja di PT KPSS dan Diduga Tidak Memiliki Visa
KARAWANG - Sebanyak 14 warga Negara asing (WNA) China diperiksa Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Wasdakim) Kantor Imigrasi (Kanim)  Karawang. Disinyalir telah menyalahgunakan izin tinggal (visa). Puluhan WNA ini ditangkap saat bekerja di pabrik pengolahan logam PT Karawang Prima Sejahtera Steel (KPSS) di Kecamatan Pangkalan.
Meskipun para WNA itu tidak ditahan, namun posport diamankan pihak Kanim hingga pemeriksaan selesai. Kepala Seksi (Kasie) Wasdakim, M Tito Adrianto mengatakan, dari 14 warga China yang bekerja di PT KPSS baru empat yang sudah diperiksa. “Selebihnya akan diperiksa secara bertahap,” kata Tito kepada
Pasundan Ekspres saat ditemui di kantornya, Rabu (18/4).
Dari hasil pemeriksaan sementara, kata Tito, warga China yang
diperiksa itu mengantongi visa kujungan  sebagai calon tenaga kerja yang datang ke Indonesia  untuk berlatih kerja di PT KPSS. Namun pada kenyataannya, malah bekerja sebagai mandor. Hal tersebut membuat para pekerja lokal curiga dan
melaporkannya ke Kanim. “Sesuai Undang-Undang No. 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian, aktivitas mereka itu tidak menyalahi aturan asal mereka berlatih di
ruang pelatihan kerja dan bukan di area kerja,” terangnya.
Apalagi, lanjut Tito, mereka mengaku tidak digaji oleh PT KPSS selama beraktivitas di pabrik tersebut dan hanya menjalani training. Selain itu, para WNA itu juga rata-rata lulusan SMP dan SMA. ”Saat ini kami sedang mengmpulkan data apakah benar mereka  hanya melakukan training atau memang bekerja di pabrik itu,” tandasnya.
Dikatakan, mereka mengantongi izin tinggal di Indonesia selama 60 hari terhitung dari 13 April dan ada juga yang 13 Maret. Dan limit waktu untuk tinggal di Indonesia  itu belum terlewati. Artinya, izin tinggal mereka masih berlaku sehingga tidak memungkinkan para WNA itu di deportasi ke negara asalnya. Dan mereka bukan tenaga kerja berkemampuan khusus atau tenaga ahli, sehingga keberadaannya setara dengan buruh kasar di Indonesia. “Kami akan terus melakukan pemantauan terhadap mereka untuk memastikan keberadaan para warga China itu tidak menyalahi aturan,” jelasnya.
Tito juga menyatakan, selama bulan Januari hingga awal April 2012 ini, pihaknya sudah mendeportasi 7 warga negara asing dari Karawang dan Purwakarta karena menyalahi aturan yang berlaku.  Ke 7 WNA itu dipulangkan ke Negara asalnya, satu orang berasal dari  Yordania, empat orang warga Negara Jepang dan dua warga Negara China. “Berdasarkan data yang ada di kantor kami, saat ini ada 878 WNA yang tinggal di wilayah Karawang dan Purwakarta, 855 WNA mengantongi Kartu Izin Tinggal Sementara (Kitas) dan sisanya telah mengantongi Kartu
Izin Tinggal Tetap (Kitap) selama lima tahun,” tegasnya.
Ditempat terpisah Ketua Dewa Pengurus Cabang (DPC) Federasi Serikat Pekerja Logam, Elektronik, dan Mesin (FSPLEM) Karawang, Agus Jaenal membenarkan jika pihaknya telah melapor ke Kantor Imigrasi Karawang tentang  keberadaan tenaga kerja asing (TKA) asal China di pabrik PT KPSS. ”Kami curiga mereka bekerja di Karawang secara ilegal.   Apalagi jumlah mereka sangat banyak, mencapai 120 orang,” kata Agus.
Dikatakan PT KPSS merupakan perusahaan milik asing (PMA) yang pemodalnya memang berasal dari China. Oleh karena itu, di lingkungan pabrik tersebut banyak tenaga kerja asal China. ”Kami khawatir keberadaan mereka tidak sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu kami melapor ke Kantor Imigrasi,” ujar Agus.
Dijelaskan, ke 14 TKA itu kerap mendikte para pekerja lokal dengan cara-cara yang tidak sopan. Akibatnya, banyak para pekerja lokal merasa tidak nyaman saat berada di lingungan pekerjaannya.
Sementara itu, Wakil Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI)
Karawang, Dudung Ridwan mengatakan, pihaknya mencurigai banyak WNA yang bekerja di Karawang secara ilegal.  Mereka masuk ke Indonesia dengan menggunakan visa turis, sehingga keberadaannya berpotensi menimbulkan kerugian negara. “Jika mereka datang sebagai turis, maka pajak pengasilan dari para tenga asing itu tentunya tidak akan terambil. Oleh karena itu kami mendesak agar Kantor Imigrasi melakukan inspeksi ke pabrik-pabrik guna mendata dan memeriksa legalitas keberadaan mereka di Karawang,” kata Dudung.(use)

 
Catatan Dahlan Iskan

Kolom Khusus Catatan Dahlan Iskan

Dengan Grobogan Tidak Perlu Impor

Kita belum tahu siapa yang akan menjadi juara Wirausaha Muda Mandiri tahun ini. Minggu depan, dalam acara yang biasanya dihadiri 5.000 wirausaha muda,...


Catatan Lainnya...