Harian Umum Pasundan Ekspres Online

Wayang Golek sebagai Kesenian Tradisional dan Media Penyebar Agama

Masih Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Budaya Modern
Tak hanya sebagai kesenian tradisional yang hingga kini masih bertahan. Wayang Golek memiliki peran penting dalam penyebaran Islam, khususnya di Jawa Barat. Seperti halnya yang dilakukan Desa Tambakmekar dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
VERRY KUSWANDI, Jalancagak-Subang
SEJARAH perkembangan Islam di Indonesia tak bisa lepas dari peranan Wali Songo sebagai ulama penyebar ajaran Islam. Pada proses penyebarannya, salah satu cara menyebarkan agama Islam melalui sebuah pergelaran seni wayang.
Baik wayang golek maupun wayang kulit, menjadi media untuk membuat masyarakat tertarik dan masuk islam dengan sendirinya. Perjuangan para wali pun tidak sia-sia, yang terwujud dalam kehidupan saat ini, banyak masyarakat Indonesia menganut ajaran Islam.
Saat kesenian wayang golek selalu nampak dalam sebuah acara ruwatan bumi atau syukuran krida pertanian. Namun berbeda halnya dengan Desa Tambamekar Kecamatan Jalancagak yang menggelar wayang dakwah dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1433 Hijriyah.
Sebuah hal yang berbeda dilakukan Pemerintah Desa Tambakmekar. Pasalnya, dalam setiap acara Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) selalu menggelar dengan diisi tausiah dari seorang ulama. Namun pada peringatan maulid nabi kali ini membuat penonton terkesima.
Kehadiran si lakon-lakon tokoh wayang golek membuat jemaah yang hadir terpukau. Seperti layaknya para wali yang menyebarkan agama Islam, Penceramah Rahmat Taufik Hidayat dari Bandung pun, membahas ajaran Islam yang disesuai dengan kehidupan sehari-hari. Dari setiap permasalahan sehari-hari sangat terasa, dengan melihat tokoh wayang berdialog yang dimainkan dalang.
Kepala Desa Tambakmekar, Ferry Budiayanto mengatakan, setiap momen agama Islam selalu diperingati. Namun untuk kali ini, masyarakat disuguhkan wayang dakwah dalam peringatan Maulid Nabi.
“Kita ingin berbeda dengan yang lain. Wayang dakwah yang disuguhkan pun menerangkan ajaran Islam. Namun ini sangat terasa, karena dari dialognya benar-benar yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Ferry.
Penampilan wayang Dakwah di Desa Tambakmekar, tidak menggunakan grup gamelan yang menggunakan alat musik tradisional. Pada penampilannya, hanya alat tradisional kendang. Selebihnya untuk musik yang lain menggunakan alat musik keyboard.
Sementara Sekmat Jalancagak, Drs Aep Saepudin Subandi mengatakan, pertunjukan yang menarik. Tidak seperti biasanya dan jauh lebih meriah. Alat-alat pun tidak terlalu banyak yang digunakan. Berbeda dengan pertunjukan wayang golek diacara ruwatan. Terutama yang dibahas dari adegan-adegan yang dimainkan dalang atau penceramah.
“Sebuah ilustrasi yang dilakukan sebuah media, bisa mempengaruhi seseorang. Termasuk wayang dakwah yang menceritakan ajaran islam yang disesuaikan dengan fenomena yang terjadi sekarang. Ini sangat bagus dan bisa membuat warga lebih agamis karena ajaran agama Islam yang paling utama sebagai pedoman sehari-hari,” ungkap Aep disela-sela acara.
Tawa dari penonton pun membuat suasan pengajian sedikit santai, Berbeda dengan tausiah yang dilakukan individu yang cenderung lebih tegang. Namun kentalnya nuansa peringatan Maulid Nabi sedikit hilang, dengan banyaknya kelucuan dari sang tokoh wayang golek.
Pengajian yang seharusnya dijadikan perenungan atas dosa-dosa yang telah diperbuat, berubah menjadi canda tawa. Tetapi jika wayang dakwah bisa menjadi motivasi untuk meningkatkan keimanan dan ketawaan kepada Alloh SWT, mengapa harus dilarang. Justru terobosan barulah yang harus dilakukan untuk memperkuat keyakinan kepad Alloh SWT. (*)

 
Catatan Dahlan Iskan

Kolom Khusus Catatan Dahlan Iskan

Dengan Grobogan Tidak Perlu Impor

Kita belum tahu siapa yang akan menjadi juara Wirausaha Muda Mandiri tahun ini. Minggu depan, dalam acara yang biasanya dihadiri 5.000 wirausaha muda,...


Catatan Lainnya...

iklan kanan