Paus Fransiskus Kunjungi Pengungsi Rohingya

Paus Fransiskus Kunjungi Pengungsi Rohingya

Paus Fransiskus akan menemui pengungsi Muslim Rohingya dari Myanmar di Dhaka saat dia mengunjungi ibukota Bangladesh minggu depan, kata seorang juru bicara Vatikan, Rabu.

Francis, yang telah berulang kali berbicara mengenai penganiayaan terhadap minoritas agama oleh pemerintah Myanmar, akan bertemu dengan sekelompok kecil orang Rohingya selama pertemuan antaragama yang dijadwalkan pada hari jumat tanggal 1 Desember.

Perjalanan paus Argentina ke Bangladesh akan didahului dengan pemberhentian tiga hari di negara tetangga Myanmar, yang merupakan kepala tentara Jenderal Min Aung Hlaing.

Charles Bo, uskup agung Yangon, yang selama kunjungannya, karena takut menimbulkan ketegangan di negara yang berpenduduk mayoritas beragama Buddha.

Pejabat pemerintah dan tentara Rakhine menyatakan status etnis minoritas, sedangkan yang resmi adalah bahwa mereka adalah imigran ilegal dari Bangladesh yang sebagian besar beragama Islam.

Juru bicara Vatikan mengatakan bahwa paus tidak dilarang untuk menggunakan istilah tersebut namun menambahkan bahwa dia berencana untuk mengikuti saran dari uskup agung tersebut.

Kecaman internasional atas perlakuan Myanmar terhadap Rohingya telah meningkat dalam beberapa hari terakhir dengan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengatakan bahwa ini adalah pembersihan etnis.

Lebih dari 600.000 orang Rohingya, sekitar sepertiga dari mereka anak-anak, telah melarikan diri ke Bangladesh sejak militer meluncurkan operasi pemberontakan kontra di negara bagian Rakhine pada bulan Agustus.

Pejabat PBB juga telah menjelaskan apa yang terjadi sebagai pembersihan etnis sementara Amnesty International mengatakan bahwa perlakuan terhadap Rohingya setara dengan rasisme apartheid Afrika Selatan yang dilembagakan.

Hingga saat ini, permasalahan etnis Rohingnya yang tidak diakui secara penuh oleh pemerintah Myanmar menjadi polemik. Sudah banyak warga etni Rohingnya yang melarikan diri serta mencoba peruntungan dengan menjadi imigran gelap ke negara-negara terdekat. Tidak sedikit pula baik ibu-ibu serta anak-anak harus melawan lapar serta kedinginan dalam perjalanan menuju tempat persembunyian untuk berlindung.