Masalah Agama Paslon di Pilkada DKI Jakarta

 

Masalah Agama Paslon di Pilkada DKI Jakarta

Pilkada DKI Jakarta memang selalu berbeda seperi biasanya. Seperti kali ini yang hebohnya sampai membuat dunia luar tahu akan kekisruhan yang terjadi. Terlebih disaat putaran pertama Pilkada DKI Jakarta kemarin dimana banyak partai-partai Islam terlebih Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang selalu menyerukan agar para pemilih di berada di DKI Jakarta untuk memilih pasangan calon yang mempunyai agama yang sama dengannya.

Artinya PKS meminta para pemilih yang beragama Islam untuk tidak memilih pasangan calon yang bukan muslim. Artinya PKS meminta warga DKI Jakarta untuk tidak memlih pasangan Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat untuk bisa menjadi Gubernur diperiode selanjutnya ini. Tapi ada yang aneh dan berbeda jika kita melihat Pilkada yang berlangsung diluar DKI Jakarta. Dimana hal tersebut ternyata sangat jauh berbeda.

Partai-partai Islam tersebut yang berada  didaerah lain justru mengusung pasangan calon kepala daerah yang tidak seiman. Jumlahnya? 22 daerah pemilihan Pilkada serentak 2017 di Indonesia. Menurut Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) yang bernama Titi Anggraini menyebutkan jika koalisi-koalisi yang terjadi didaerah selain DKI Jakarta tidak perduli akan perbedaan agama serta berasal dari suku mana pasangan calon yang akan diusungnya agar bisa menang dalam Pilkada kali ini.

Lebih lanjut Titi melihat jika pada intinya sejumlah partai islam tersebut malah lebih mementingkan peluang agar bisa menang secara kontestasi. Contoh bisa diambil dari Pilkada di Papua yang ternyata mendukung calon yang tidak seiman bagi partai-partai Islam didaerah tersebut. Titi juga menegaskan jika ikatan koalisi lokal pada Pilkada 2017 kali ini lebih mengarah agar mereka bisa memenangkan calonnya daripada harus mementingkan agama serta kesukuan.

Lebih lanjut perempuan kelahiran Palembang, 12 Oktober 1979 ini mengakui jika koalisi yang diderah itu bisa sangat lentur. Terlebih jika kelenturan tersebut bisa melupakan yang namanya ras, agama dan suku. Titi juga ingin kita melihat pemilihan Pilkada yang berada diwilayah Indonesia Timur, yang memajukan pasangan calon dengan perpaduan mayoritas dan minoritas dari sebuah kelompok baik itu agama, ras ataupun suku.

Masalah Agama Paslon di Pilkada DKI Jakarta

Dengan perpaduan pasangan calon dalam segi agama, akan bisa menjadi katalisator agar mereka bisa hidup berdampingan secara harmonis. Apa yang terjadi untuk Pilkada DKI Jakarta, Titi sendiri melihat, agama hanya merupakan faktor pengikut dari faktor yang sebenarnya yaitu kompetisi antar pasangan calon. 2 pasangan calon kuat Gubernur DKI Jakarta sudah siap menghadapi putaran ke-2 yaitu pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi. Kita mungkin hanya bisa berharap, siapapun yang akan menang nanti, kerukunan umat beragama di Indonesia masih terjaga khususnya didaerah DKI Jakarta.