Golkar Pemenang Pilkada Serentak 2017

 

Golkar Pemenang Pilkada Serentak 2017

Perhelatan Pilkada 2017 memang sudah lewat dalam beberapa waktu yang lalu. Yang sekarang tersisa adalah ada beberapa daerah yang harus kembali melakukan pemilihan untuk  putaran ke-2 dimana salah satunya adalah Pilkada DKI yang akan berhadapan antara paslon Ahok-Djarot dan Anies-Sandi. Kemudian selain itu, Pilkada masih menyisakan beberapa kericuhan dimana ada paslon yang tidak puas dengan hasil perolehan suara yang diumumkan oleh KPU. Tapi mari kita tinggalkan kesemerawutan tersebut.

Karena yang sebenarnya menjadi pertanyaan sesungguhnya adalah partai mana yang memenangkan pemilu paling banyak dari 101 daerah pemilihan tersebut? Ternyata bukan partai pengusung pemerintahan sekarang yaitu PDIP. Ternyata yang paling banyak adalah partai Golkar yang paling banyak meraih kemenangan daripada partai lainnya. Tentu saja ini bisa membuktikan satu hal terlebih dahulu jika partai penguasa PDIP tidak serta merta bisa mampu menguasai peta politik tanah air. Walaupun tentunya kemenangan yang saat ini diraih partai Golkar bukan datang dengan sendirinya.  Mengapa hal ini bisa sampai terjadi? Inilah keahlian partai yang dulu menjadi penguasa “tunggal” perpolitikan ditanah air.

Ternyata mereka sudah melakukan test menyeluruh kepada semua calon Kepala Daerah yang akan maju dimana mereka yakin calonnya tersebut akan bisa pasti memenangkan Pilkada didaerahnya masing-masing. Hal inilah yang menjadi kepiawaian partai Golkar yang mampu menang 55% dari meraih kemenangan dengan mengusung 98 kandidat mereka dalam Pilkada 2017. Walaupun begitu, Golkar sebenarnya kalah efektif dari partai lain yaitu Partai PKB dan Nasdem yang ternyata berhasil memenangkan sebesar 56% dari kandidat yang mereka usung dalam Pilkada 2017 kali ini.

Golkar Pemenang Pilkada Serentak 2017

Kemudian setelah itu urutan berlanjut pada partai Demokrat, PKS dan PDIP yang memperoleh 50% dari kandidat yang diusungkan dimana menempatkan mereka diurutan ke-3. Setelah itu disusul Partai Gerindra sertai Partai Hanura di angka 49%, PPP dengan 38%, PBB 35% dan kemudian 25% untuk PKPI. Tapi bagaimana jika kita melihat peta koalisi? Ternyata yang menang dalam berkoalisi adalah partai Nasdem-partai Golkar. Dimana mereka sukses membuat 32 kemenangan sebagai koalisi tersukses dalam Pilkada kemarin. Setelah itu disusul koalisi yang dibangun oleh Partai Golkar-Partai Demokrat dengan mencatat 30 kemenangan berkoalisi.

Berikut urutan partai pemenang Pilkada 2017:

  1. Partai Golkar (54 kemenangan)
  2. Partai Nasdem ( 47 kemenangan)
  3. Partai Demokrat ( 45 kemenangan)
  4. PDIP ( 45 kemenangan)
  5. Partai Gerindra ( 40 kemenangan)
  6. PKB ( 40 kemenangan)
  7. PKS ( 39 kemenangan)
  8. PAN ( 39 kemenangan)
  9. Partai Hanura ( 35 kemenangan)
  10. PPP ( 26 kemenangan)
  11. PBB ( 11 kemenangan)
  12. PKPI ( 3 kemenangan)

Melihat Peluang Risma di Pilgub Jatim 2018

Melihat Peluang Risma di Pilgub Jatim 2018

Siapapun yang tidak mengenal sosok Walikota Surabaya, Tri Rismaharini sungguhlah keterlaluan. Tri Rismaharini atau bisa kita sebut dengan panggilam Risma ini memang seorang kepala daerah yang selalu mendapat perhatian dari banyak kalangan. Terlebih pada media sosial yang melihat sosok walikota yang satu ini merupakan sosok kepala daerah yang mampu membawa daerahnya lebih maju daripada sebelumnya. Sepak terjangnya sebagai seorang walikota memang sangat spesial dimana masyarakat Surabaya sangat memuji kinerjanya yang sangat bagus dalam membangun Surabaya.

Sebagai seorang kader PDIP, Risma juga kader yang dianggap spesial oleh jajaran pusat PDIP. Mengapa dianggap spesial? Itu karena partai menganggap Risma punya banyak sekali pengalaman dala birokrasi serta ditambah dengan menunjukkan betapa baiknya saat dia bekerja. Kemudian Risma juga bisa menjaga serta mengangkat citra PDIP selain aktifnya dirinya saat menjalankan tugas-tugas dari partainya tersebut.

Bagi seorang Sekjen DPD PDIP, Hasto Kristiyanto, sosok Risma dianggap sebagai walikota pekerja keras selain kepintarannya yang mampu menterjemahkan visi serta misi ideologis PDIP. Tentunya yang selalu membuat kebijakan yang pro dengan rakyat kecil. Dan yang paling membuat PDIP sayang kepada Risma, dimana walikota perempuan tersebut resmi mengundurkan diri dengan mengajukan pensiun dini dari PNS. Dan langsung masuk menjadi anggota PDIP. Dengan resmi menjadi anggota partai, Risma langsung diusung oleh PDIP bersama Ketua PDIP Surabaya, Whisnu Sakti Buana dalam menghadapi Pilkada serentak pada Desember 2015 silam.

Risma juga pernah hadir dalam kongres PDIP yang berlangsung di Bali pada bulan April 2014 silam. Dimana ternyata Risma memang diundang khusus oleh Megawati Soekarnoputri untuk bisa datang dalam upacara pembukaan kongres tersebut. Rismapun memang pada akhirnya datang dan disambut sangat meriah ditengah lingkungan PDIP Pusat. Risma juga sering mendapat kepercayaan dari jajaran pusat PDIP dalam tugas-tugas kampanye ataupun konsolidasi partai ditempat yang tergolong mempunyai tingkat kesulitan yang sangat tinggi.

Contohnya saja, saat Risma dihadirkan di kota Jayapura denga tujuan memberikan ilmunya dalam memenangkan Pilkada serta membantu dalam menyusun strategi yang tepat untuk membantu pemerintahan yang prorakyat. Hanya Jayapura? Tidak! Daerah Aceh juga pernah menjadi agenda kunjungan Risma dalam membantu partainya tersebut. Dan terakhir, Risma diminta datang oleh PDIP Pusat untuk bisa membantu PDIP dalam Pilkada 2017 kemarin dimana Risma berkampanye di Papua Barat dan Gorontalo.

Melihat Peluang Risma di Pilgub Jatim 2018

Dengan melihat betapa percayanya PDIP Pusat kepada Risma, bukan tidak mungkin, seorang walikota bisa dimajukan oleh PDIP untuk bisa maju dalam Pilgub Jawa Timur pada 2018 mendatang. Dan jika Risma benar-benar diusung oleh PDIP untuk maju dalam Pilgub Jatim 2018 mendatang, bisa jadi nama-nama besar yang ingin maju dalam Pilgub seperti Wakil Gubernur Jatim saat ini, Saifullah Yusuf dan Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa bisa langsung tenggelam oleh nama besar Risma yang menjadi kebanggaan kota Surabaya pada saat ini.

Black Campaign Jadi Senjata Mematikan Artis Calon Kepala Daerah

Black Campaign Jadi Senjata Mematikan Artis Calon Kepala Daerah

Tentunya kita sudah tidak heran lagi jika melihat pada pemilihan Kepala Daerah ataupun Gubernur dengan adanya calon dari artis-artis yang sudah kita kenal namanya dari televisi. Yup semua warga negara bebas untuk bisa mencalonkan dirinya menjadi Kepala Daerah atau Gubernuh termasuk juga artis-artis Indonesia. Sudah tidak terhitung berapa banyak artis kita yang tampil menjadi calon dalam pemilihan Kepala Daerah. Walaupun tidak semua yang bisa lolos. Ada yang gagal tentunya.

Tapi ada juga yang berhasil untuk menjadi orang no 1 didaerah tersebut.  Sebut saja ada Singit Purnomo Syamsuddin atau yang sudah kita kenal nama panggilannya Pasya Ungu yang sukses menjadi wakil walikota Palu. Kemudian kita juga tahu sepak terjang seorang artis Zumi Zola yang menjadi Gubernur Jambi pada saat ini. Dimana kita sangat tahu ketegasan kepemimpinan untuk membuat Jambi menjadi kota yang sangat maju.

Jangan lupakan artis senior kita, Deddy Mizwar yang menjadi wakil gubernur Jawa Barat sejak 2013 silam. Dan jangan lupakan juga artis Dede Yusuf dan Rano Karno yang juga sukses sebagai kepala daerah lainnya. Yang menjadi pertanyaannya, apakah mereka menggunakan popularitasnya sebagai artis untuk bisa maju dalam pemilihan kepala daerah tersebut? Bisa jadi. Hanya sayangnya dengan popularitas tersebut, mereka juga bisa jatuh dan kalah. Dengan popularitas tersebut juga, para pesaing lawan mereka dalam pemilihan bisa menggunakan dengan cara kotor.

Apa yang dilakukan oleh pesaingnya? Mereka siap melakukan black campaign untuk bisa menjatuhkan para artis calon kepala daerah tersebut. Hal ini juga menjadi perkataan seorang Timsus Pilkada yang bernama Devia Sherly. Sherly mencermati jika artis-artis yang mencalonkan dirinya dalam Pilkada ataupun Pilgub akan mudah terkena black campaign. Sherly juga memberi catatan khusus bagi calon kepala daerah yang kebetulan berjenis kelamin perempuan yang ternyata lebih rentan terkena black campaign daripada artis yang berjenis kelamin laki-laki.

Menjatuhkannya akan lebih mudah tentunya. Sebut saja ada nama Emilia Contessa yang gagal dalam Pilkada Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Kemudian ada nama artis perempuan cantik, Rieke Diah Pitaloka yang harus ikhlas menerima kekalahan dari pasangan Ahmad Heryawan dan Deddu Mizwar dalam Pilgub Jawa Barat 2013 silam. Sherly membandingkan jika untuj artis lelaki akan banyak celah dalam pembelaan diri mereka sendiri tapi tidak untuk artis perempiuan.

Black Campaign Jadi Senjata Mematikan Artis Calon Kepala Daerah

Dimana jika terdapat sedikit saja masalah dalam keluarganya, sudah pasti akan langsung jatuh dalam pemilihan tersebut. Sherly menilai black campaign sudah menjadi rahasia umum yang sering dilakukan dalam setiap pemilihan kepala daerah manapun. Terlebih jika tim sukses dari masing-masing calon mempunyai kehebatan dalam menyusun black campaign yang rapi tentunya.