Tantangan Kepemimpinan Perempuan di Indonesia

Tantangan Kepemimpinan Perempuan di Indonesia

 

Tantangan Kepemimpinan Perempuan di Indonesia

Perhelatan Pilkada 2017 sudah selesai dilaksanakan serentak diseluruh daerah di Indonesia. Ada yang menang dan ada juga yang kalah. Walaupun yang kalah biasanya tidak akan pernah menerima hasil perhitungan suara yang sudah dilakukan oleh KPU. Tapi kita tinggalkan sejenak pemilihan dan kekisruhan yang terjadi dalam Pilkada tersebut.

Mari kita menoleh sejenak tentang sebuah catatan kecil yang luput dari banyak perhatian banyak orang tentang pelaksanaan Pilkada di 101 daerah pemilihan ini. Catatan tersebut adalah tentang partisipasi perempuan dalam ikut dipemilihan Pilkada kali ini. Catatan yang terdapat dalam data Komnas Perempuan ini menyatakan bahwa hanya ada 6,7 persen perempuan saja dari semua calon Kepala Daerah yang ada dalam 101 daerah pemilihan.

Jika diperinci secara jelas, totalnya ada 24 orang perempuan yang menjadi calon Kepala Daerah dan 19 orang lagi akan menjadi calon Wakil Kepala Daerah. Besar? Tidak, jika mau kita bandingkan dengan jumlah laki-laki yang menjadi calonnya. Jumlahnya terpaut sangat jauh dimana mereka menguasai dengan jumlah mencapai angka 599 calon laki-laki atau sekitar 93,3 persen. Jauh bukan perbandingannya? Disini terlihat jika kepemimpinan perempuan di negeri kita ini masih sangat rendah dimana mereka sering mendapatkan banyak sekali tantangan serta rintangan.

Salah satu yang menjadi penyebabnya adalah tentang persepsi dari masyarakat yang masih menganggap jabatan-jabatan politik masih dianggap ranah laki-laki bukan perempuan. Apa yang menjadi penyebabnya? Mengapa sangat sedikit sekali kader perempuan yang maju menjadi calon pemimpin didaerah? Selain anggapan yang sudah dikatakan tadi, ternyata hal yang lebih mendukung adalah jarang adanya pengkaderan dari partai politik untuk bisa membawa kader perempuannya dalam menempati jabatan strategis.

Partai-partai polotik masih belum memberi ruang lebih untuk memberi kesempatan yang besar bagi kaum hawa dalam kiprahnya didunia politik. Walaupun sebenarnya, perempuan bisa lebih unggul dalam masalah sensitivitas. Karena perempuan memang diakui memiliki sensitivitas lebih tinggi daripada kaum laki-laki. Dengan adanya sensitivitas, kaum perempuan akan bisa lebih peka dalam menghadapi persoalan masyarakat daerah yang akan dipimpinnya kelak.

Tantangan Kepemimpinan Perempuan di Indonesia

Karena melihat minimnya calon Kepala Daerah, mungkin pemerintah perlu untuk sosialisasi dan pendekatan  kepada wanita agar mau ikut serta dalam pesta pemilihan Kepala Daerah. Bahkan anggap saja pemerintah tidak mau perduli akan hal ini, mungkin partai-partai politik mungkin bisa melakukan pengkaderan bagi anggotanya dalam membekali mereka pengetahuan politik. Pastinya kita juga harus bisa mendorong kaum hawa untuk bisa lebih maju.