4 Anak Menjadi Yatim Akibat Serangan Bom Sidoarjo

4 Anak Menjadi Yatim Akibat Serangan Bom Sidoarjo

Sedikitnya empat anak milik dua dari tiga keluarga di belakang serangkaian pemboman di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, pada hari Minggu dan Senin, menjadi yatim setelah orang tua mereka terbunuh dalam ledakan itu.

Dalam ledakan di apartemen Wonocolo (Rusunawa) di Sidoarjo, AR dan dua adik kandungnya, FS, 11, dan GA, 10, kehilangan ayah mereka Anton Ferdiantono, ibu Puspitasari dan kakak tertua HR, 17.

Anton rupanya salah menangani triperoxide triacetone triperoxide yang sangat sensitif (TATP) dan memicu ledakan yang langsung merenggut nyawa Puspitasari dan HR. Anton meninggal kemudian setelah petugas polisi menembaknya untuk mencegahnya memicu bom lain. Polisi percaya bahwa bahan peledak TATP akan digunakan oleh Anton, yang kemudian dikenal sebagai anggota jaringan teror Jamaah Ansharud Daulah (JAD), untuk meluncurkan serangan lain di kota.

Yang termuda di keluarga Anton, GA, harus menjalani perawatan medis intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Ngagel untuk luka bakar.

Seperti AR, FS, dan GA, yang tiba-tiba menjadi yatim piatu, Ais, 8, putri dari dugaan pembom bunuh diri Tri Murtiono, 50, juga kehilangan orang tua dan dua saudara laki-laki selama serangan bunuh diri yang melibatkan dua sepeda motor di markas Polisi Surabaya pada hari Senin. Tri, istrinya, Tri Ernawati, 43, dan putra-putra mereka yang lain, MDA, 16, dan MDS, 14, meninggal seketika dalam pemboman sepeda motor. Untungnya, Ais selamat dari ledakan dan diselamatkan oleh seorang petugas polisi yang kebetulan dekat dengan lokasi ledakan. Dia dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk menerima perawatan.

Media lokal melaporkan bahwa Kepala Kepolisian Nasional Jenderal Tito Karnavian melihat anak-anak yatim korban bom di Sidoarjo pada hari Senin.

Tito mengatakan ini adalah pertama kalinya teroris di Indonesia membawa serta anak-anak dalam pemboman bunuh diri mereka.

“Di Suriah, [jaringan teror] Negara Islam telah menggunakan anak-anak beberapa kali dalam serangan mereka,” kata Tito kepada wartawan dalam konferensi pers. “Tapi, ini pertama kalinya terjadi di Indonesia.”

Polisi Jawa Timur dilaporkan meminta bantuan dari beberapa psikiater untuk membantu anak-anak yatim piatu dalam menangani trauma psikologis mereka.

Dalam pemboman bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada hari Minggu, seluruh keluarga enam orang tewas. Para pelaku bom bunuh diri diidentifikasi sebagai Dita Oepriyanto dan istri Puji Kuswati, bersama dengan empat anak, YF, 18, FH, 16, FS, 12, dan PR, 9. Dita dikenal sebagai pemimpin JAD dari bab Surabaya.

25 tewas dan 55 luka

Sedikitnya 25 orang tewas dan 55 lainnya luka-luka dalam pemboman di Surabaya dan Sidoarjo.

Kelompok Negara Islam telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan-serangan bunuh diri itu, katanya melalui agensi propagandanya, Amaq.

Kelompok ini juga mengklaim bertanggung jawab atas kerusuhan di markas Brigade Mobil Polisi Nasional (Mako Brimob) di Depok, Jawa Barat, yang menyebabkan kematian lima anggota pasukan elit kontraterorisme polisi, Densus 88, dan 36 jam kebuntuan antara narapidana teror dan pasukan keamanan.