Putin Bertemu Erdogan Berbicara Tentang Perjanjian Nuklir Iran

Presiden Rusia Vladimir Putin telah berbicara dengan Angela Merkel dari Jerman dan Recep Tayyip Erdogan dari Turki dalam upaya untuk menjaga perjanjian nuklir Iran tetap hidup setelah keputusan AS untuk mundur, Kremlin mengatakan Jumat.

Putin sebelumnya telah menyuarakan “keprihatinan mendalam” atas keputusan Presiden AS, Donald Trump dan para pejabat Rusia mengatakan mereka akan bekerja dengan mitra Eropa untuk mempertahankan perjanjian.

“Pentingnya menjaga kesepakatan dari sudut pandang stabilitas internasional dan regional disorot,” kata Kremlin dalam sebuah pernyataan menyusul panggilan antara Putin dan Merkel.

Kedua pemimpin juga membahas situasi di Suriah serta kunjungan kerja yang direncanakan Merkel ke Rusia minggu depan, kata Moskow.

Merkel sebelumnya mengatakan Jerman dan mitra-mitranya di Eropa akan “melakukan segalanya” untuk memastikan Iran tetap dalam kesepakatan nuklir 2015.

Presiden Rusia itu juga berbicara dengan mitranya dari Turki, Erdogan, dengan pasangan itu mengatakan Trump “salah” untuk menarik keluar dari kesepakatan itu, menurut sumber presiden Turki Kamis malam.

Ankara telah bekerja erat dengan Moskow dan Teheran selama setahun terakhir dalam proses perdamaian Suriah meskipun Turki dan Rusia berada di pihak yang berseberangan konflik dan memiliki hubungan yang kadang bermasalah dengan Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif akan mengunjungi Rusia dalam beberapa hari mendatang sebagai bagian dari tur diplomatik di Brussels dan Beijing, kata juru bicaranya, Jumat.

Trump menentang

Trump minggu ini menentang keinginan kekuatan dunia ketika ia mengumumkan bahwa Washington akan menarik diri dari perjanjian nuklir bersejarah dan menjatuhkan sanksi baru terhadap Teheran.

Setelah negosiasi panjang, Iran telah setuju pada Juli 2015 untuk membekukan program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi internasional.

Kesepakatan itu telah dinegosiasikan antara Iran dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB seperti Inggris, Cina, Perancis, Rusia dan Amerika Serikat ditambah Jerman.

Ada pun Amerika Serikat yang saat ini dipimpin oleh Donald Trump menjadi salah satu negara yang tidak mendukung perpanjangan dari perjanjian nuklir Iran. Memang hubungan antara Amerika Serita dan sekutur dengan Rusia bersama sekutu tidak pernah akur termasuk dalam hal ini.