Ridwan Kamil Menang Pilgub Jabar Versi Hitung Cepat

Pasangan nomor urut 1 pemilihan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil-UU dinyatakan menang dalam perhitungan cepat yang dilakukan oleh sejumlah lembaga survei.

Kemenangan ini memang belum final karena harus menunggu perhitungan resmi dari Komisi Pemilihan Umum(KPU) dalam beberapa hari kedepan, tetapi biasanya hasil lembaga survei dengan KPU tidak akan berbeda jauh khususnya karena hampir semua lembaga survei memenagnkan pasangan Ridwan Kamil-UU.

Dari survei beberapa lembaga menempatkan Ridwan Kami dan pasangan menang hingga 32 persen dan mengungguli 3 pasangan calon lainnya. Yang menarik dari hasil perhitungan cepat ini adalah pasangan nomor urut 3, Sudrajat РAhmad Syaikhu berada ditempat kedua dengan persentase sekitar 29 persen Рpadahal pasangan ini dari sejumlah survei sebelumnya kalah dari pasangan Deddy Mizwar РDedi Mulyadi.

Kemenangan pasangan Ridwan Kamil – UU ini tentu saja tidak diluar dugaan, pasalnya pasangan yang bertajuk Rindu ini memang diunggulkan oleh banyak lembaga survei sebelum pemilihan Gubernur Jawa Barat untuk periode 2018-2023.

Mematahkan dominasi PKS

Kemenangan Ridwan Kamil di Jabar ini juga membuat rekor tak terkalahkan pasangan yang diusung oleh PKS pada 10 tahun terakhir berakhir. Kemenangan Ridwan Kamil ini membuat tradisi dari 10 tahun terakhir dimana kemenangan didapat oleh pasangan yang dicalonkan oleh PKS berakhir.

Pasangan dari PKS dan Gerindra, Sudrajat – Ahmad Syaikhu memang meraup suara yang cukup besar – tetapi ini tidak cukup untuk mengalahkan Ridwan Kamil dalam perhitungan cepat dari berbagai lembaga survei.

Sebelumnya pasangan dari PKS dan Gerindra ini memang digadang-gadang bisa memenangkan Pilgub Jabar meskipun dalam sejumlah survei tidak terlalu populer. Mengangkat isu #2019GantiPresiden, pasangan ini merasa cukup mampu bersaing dan mendapatkan suara dari para pendukungnya dan yang tidak pro terhadap Jokowi.

Fakta menarik lainnya dari pemilihan umu di Pilkada 2018 lalu adalah, semua pasangan yang diusung oleh Gerindra-PKS mengalami kekalahan. Partai seperti PDI-P sendiri juga mengalami hal serupa karena gagal membawa kemenangan bagi para kandidat yang diusung.

Dengan ini maka membuat orang menilai bahwa figur menjadi hal utama dalam pemilihan sebuah kepala daerah, tidak peduli dari partai mana yang mengusung.